Your Ad Here



Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
THE ORIGINAL WRITER IS NOT ONE WHO IMITATES NOBODY, BUT ONE WHOM NOBODY CAN IMITATE
(Francois René de Chateaubriand, 1768 – 1848)



Sunday, October 03, 2010
Characters




MENGAPA karakter itu sangat penting? Karena karakter akan membumikan kisah kita. Melalui dialog para karakter yang dibentuk dengan solid, kisah kita akan terasa lebih hidup dan nyata. Buatlah karakter yang simpatik. Bukan berarti harus sempurna karena dalam kehidupan nyata manusia memang tak ada yang sempurna. Pastikan pembaca bisa merasa dekat dengan kebahagiaan, kesedihan, kekurangan ataupun kelebihan yang dimilikinya.

Cara termudah untuk belajar membuat karakter yang hidup adalah dengan "meminjam" karakter dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Misalnya, tokoh yang cerewet bisa kita pinjam dari karakter tetangga di ujung gang yang nyebelin banget (misalnya loh). Atau tokoh dosen killer bisa kita pinjam dari salah satu guru kita semasa sekolah dulu, dll... Masukkan kebiasaan-kebiasaan unik dari orang-orang yang kita kenal tersebut ke dalam karakter tokoh ciptaan kita. Dengan demikian karakter khayalan kita bisa lebih manusiawi.

Cara lain untuk membumikan karakter kita adalah dengan menyelipkan hal-hal kecil yang tidak berhubungan langsung dengan cerita utama. Misalnya, si tokoh yang harus balik lagi ke rumah karena ponselnya yang ketinggalan, atau si tokoh yang menyenggol gelas berisi air hingga tumpah saat terburu-buru, dll. Intinya, hal-hal kecil tidak penting yang menjadi bagian dari keseharian kita sebagai manusia.

Background story (BS)
Seperti halnya kita semua yang mempunyai latar belakang, karakter fiksi pun "berhak" untuk mendapatkan latar belakang mereka. BS merupakan resume dari si tokoh, yang berisi semua informasi tentang latar belakang hidupnya (misal, pendidikan, hobi, warna favorit, ketidaksukaanya, kejadian-kejadian di masa lalunya yang penting, sejarah keluarganya, dll). Namun semua informasi tersebut tidak berarti harus dituangkan dalam tulisan kita, cukup yang menurut kita perlu diketahui oleh pembaca saja. Dan tidak semua karakter kita memerlukan BS yang detail. Biasanya para karakter utama akan memiliki BS yang lebih detail dibandingkan para karakter lainnya.

Umumnya para penulis mempunyai memori yang cukup kuat untuk menyimpan semua informasi dari BS para tokohnya tanpa harus menuliskannya di lembar coret-coret. Namun jika memang merasa perlu, tidak ada salahnya jika kita menuliskannya di catatan kita sendiri. BS ini penting karena akan menjadi peta buat kita dalam menggambarkan para karakter kita sehingga kita tidak akan melenceng ke mana-mana.

Misalnya kita menceritkan tentang sepak terjang seorang eksekutif muda, katakanlah bernama Yudi, yang berusaha meraih posisi GM Marketing yang sedang kosong di kantornya. Di kepala sang penulis akan tercipta sebuah BS untuk Yudi. Bahwa Yudi lulusan sekolah luar, sejak kecil nilai-nilainya selalu bagus, orang tuanya yang sukses memicunya untuk bisa sukses juga, dari dulu selalu bermimpi untuk menduduki posisi tertinggi dalam perusahaan, selalu menyukai kompetisi dll... Informasi-informasi dalam BS yang diciptakan penulis inilah yang akan menjadi peta penulis dalam menggambarkan karakternya.

Lalu katakanlah, di kantor Yudi itu ada office boy yang membuatkan tehnya setiap pagi. Tokoh OB ini hanya digambarkan oleh penulis secara sekilas, misalnya saat mengantar teh manis untuk Yudi. Tentu saja penulis tidak perlu repot-repot membuat BS di kepalanya untuk si OB ini karena memang karakternya sengaja tidak dihidupkan dalam kisah tersebut. Dengan kata lain, seberapa detail BS dari karakter kita, tergantung dari seberapa penting posisi karakter tersebut dalam kisah kita.

Sekilas masalah BS ini terlihat sepele, namun sebenarnya sangat penting. Saya pribadi selalu membuat BS, walaupun memang tidak saya tuliskan karena untungnya saya mempunyai memori yang cukup kuat untuk bisa mengingat segala macam 'tetek-bengek' kehidupan para tokoh utama saya. Namun anehnya, saya justru sering keteter dengan para tokoh sempalan saya. Misalnya, saya sering salah dengan nama supir dari tokoh utama saya, nama pembantunya, atau pun tokoh lainnya yang tidak terlalu penting dalam cerita saya. Hal ini tentu saja akan menganggu jalan cerita. Untuk itu akhirnya saya menuliskannya di buku catatan saya fakta-fakta kecil yang 'tampak' tidak penting, namun krusial untuk menyempurnakan jalan cerita kita.



Posted at 09:50 am by Lala

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry





Writing should be fun.
Don't let it stress you out.





















Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed